Sementara itu Zuhria mengaku bersyukur atas pencapaiannya kali ini.
Medali emas di Solo ini menambah catatan prestasi yang sama sebelumya diraih pada Peparnas Papua.
Zuhria mengaku pada Peparnas kali ini lebih berat tantangannya
Ia harus meninggalkan ketiga anaknya yang berusia 5 tahun, 2 tahun dan yang paling bungsu berusia 4 bulan yang masih menyusu.
“Jadi saya harus memompa asi saya banyak-banyak supaya cukup saat saya bertanding di Peparnas,” kata Zuhria usai pertandingan.
Disamping itu, perjuangan Zuhria makin berat karena berangkat ke Solo tanpa uang saku untuk ditinggalkan kepada anak-anaknya.
Berbanding terbalik dengan atlet PON yang digembleng Puslatda selama 72 hari dan mendapat honor, atlet Peparnas mengeluarkan biaya sendiri untuk latihan mandiri tanpa ada honor sepeserpun.
Perbedaan atlet normal dan difabel ini dirasakan semua atlet difabel.
“Makan selama latihan sebulan itu biaya sendiri, semua sendiri,” kata Zuhria.
Zuhria berharap kesetaraan atlet normal maupun difabel.
Pun siap bonus nantinya bisa setara dengan atlet PON.
Pada Peparnas Papua, Zuhria mendapatkan bonus medali emas Rp 100 juta sementara atlet PON Papua Rp250 juta dan satu unit rumah.
“Kalau bisa setara,” kata Zuhria berharap bonus Peparnas tahun ini. (*)
