Langkah-langkah Cudy tuntas dan cerdas, melalui Sulteng Emas KONI dan Pengpprov Cabor berhasil meloloskan 214 atlet dan 30 cabang olahraga, selanjutnya sang Gubernur memberikan kepercayaan sekaligus kehormatan kepada sang jenderal membawa kontingen Sulteng.
Puslatda pertama kalinya di barak salah satu cara menanamkan karakter petarung atlet. Selama 72 hari pembentukan karakter, latihan menggunakan pola semi militer.
Tentu banyak protes dan kendala yang dihadapi. Atlet Sulteng sebagian protes karena Puslatda di barak ini pertama kalinya diterapkan.
Langkah sang jenderal bukannya mudah. Namun dengan slogan teruslah bersyukur hingga lupa cara mengeluh, sang jenderal terus bekerja memberikan motivasi yang terukur dan terarah, dimulai dari kesatuan paling bawah agar perjuangan membawa kontingen Sulteng benar-benar berhasil.
Baik di Puslatda maupun di arena, Dody hadir untuk atlet. Setidak enak apapun sikap atlet, pelatih ataupun pengurus, Dody hanya menjawab senyum namun tegas. Sikap seolah berbeda jika bukan kepada atlet yang menampilkan sosok militer berwibawa.
Di arena PON, Dody menampilkan sebagai sosok bapak, menerjang medan ratusan kilometer ke venue-venue untuk memberikan motivasi.
Kepada atlet-atlet yang sedang berlomba, Dody hadir disamping. Memberikan dukungan melalui suaranya, gerak tangannya dan tatapan sang jenderal membakar motivasi petarung atlet Sulteng.
Kehadiran Dody di gateball, di renang, di lintasan marathon, di sepak takraw, di tenis meja, di venue-venue lainnya termasuk balap motor, mempengaruhi sanubari atlet.
Kewibawaan sang jenderal di Aceh maupun di Medan juga membuat kontingen Sulteng disegani. Menjadi buah bibir di kalangan CdM, Kontingen Sulteng dipegang seorang jenderal.
