Hari kejurnas pun tiba. Yorry turun di nomor single babak eliminasi. Ia dipanggil sebutan anak muda, karena dari semua peserta, Yorry peserta termuda di usia 17 tahun.
Begitu dimulai, Yorry sekuat tenaga mengerahkan tenaganya. Mendayung dengan posisi canoe, begitu melihat kedepan, Yorry terhenyak.
“Saya lihat mereka sudah jauh. Jauh sekali sekitar dua bola-bola atau 30 meter. Jadi latihan saya selama ini belum ada apa-apanya. Dari situ saya sakit hati sekali. Tunggu kamu,” kata Yorry.
Sekembalinya pulang, Yorry tidak ada waktu buat santai. Latihan biasa hanya mendayung, ia tambah sendiri bebannya.
Bayang-bayang kegagalan di Kejurnas Palangkaraya masih membekas. Batu-batu seukuran kepala dan ukuran lebih besar lagi, ia ambil dan ditaruh di perahunya.
“Saya mendayung pagi siang sore. Saya sakit hati, karena latihan saya ternyata tidak ada apa-apanya. Jadi saya tambah bebannya,” katanya.
Bagi Yorry, naluri latihan ini jarang dimiliki atlet sekarang. Seorang atlet harus mengetahui kekuatan ketahanan dirinya sendiri. Mau tambah beban atau tidak, jangan selalu mengandalkan program pelatih. Apabila mampu dilampaui, maka lakukanlah. Ingat, apa yang kamu lakukan sekarang itu juga dilakukan lawan kamu, jadi lampaui.
“Saya melakukannya karena saya tahu badan saya. saya tambah batu-batu di perahu sampai penuh. saya dayung terus dari jembatan 4 yang saat itu belum ada ke jembatan 3 melawan arus dalam waktu 1,5 jam ,” kata Yorry.
Sampai-sampai Ketua PODSI Sulteng kala itu Kol Amirudin Ponulele mantan Danlanal Palu menjulukinya Atlet ‘Gila’ karena latihan yang tidak dilakukan manusia pada umumnya.
“Ya beliau menjuluki saya atlet gila latihan,” ucap Yorry.
Latihan itu terus diulang sampai batu-batu itu menumpuk di pinggiran sungai. Kini batu-batu itu sudah tiada dijadikan pondasi tanggul.
