Dari latihan itu juga ia mengerti arti angin, arus, ombak. Bagi atlet dayung, angin arus ombak adalah sahabat, kalau mengerti ilmunya maka akan menjadi tenaga yang membuat perahu semakin laju.
Diakui Yorry, latihan era 90-an sangatlah berat namun ia nikmati. Bahkan pengalaman itu membekas sampai sekarang.
Latihan untuk bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk daerah dan Indonesia. Era 90 an saat Yorry di Palu, berjuang menekuni dayung tanpa kenal lelah. Bahkan saat lapar pun ia pernah merasakan pengalaman getir. Yang mana kala lapar tidak ada uang sama sekali dan hidup jauh dari keluarga. Ia perlu makan untuk mengisi tenaga, jika tidak makan maka sia-sialah latihannya.
“Lapar sekali saya, saya menangis. Ya Tuhan mau makan dimana. Untung Tuhan tolong saya, saya cari biawak baru saya makan. Maksudnya saya jual ke orang-orang Cina hasilnya untuk makan,” kata Yorry.
“Saya makan untuk menambah tenaga. Itu saja, kalau masih ada tenagaku, saya tidak makan. Atlet sekarang harus seperti jangan manja, gigih berlatih raih impianmu dengan sekuat tenaga,” kata Yorry.
Hasil jerih payah itu membuahkan hasil. Pertama kalinya Yorry meraih medali emas di Kejurnas di Sumatera Barat tahun 1991 dengan meraih 1 emas nomor canoe single man (C1) 1000 meter dan 1 perunggu C1 500 meter.
Di tahun 1992 Prakualifikasi PON Yorry berhasil mendapatkan 1 emas 1 perunggu di nomor yang sama.
Keberhasilan Yorry saat Pra PON mengejutkan semua pihak dan menjadi andalan emas PON 1993 di Jakarta. Sayangnya Yorry hanya mendapatkan 2 perunggu pada PON 1993.
Bagaimana bisa? Nantikan edisi berikutnya kisah Yorry di pelatnas. (bersambung)
