Kisah Prada Heriyanto Bisa Raih Emas di PON dari Cabor Non Unggulan

PON 2024, SOSOK2258 Dilihat

Usai Pra PON bukan semakin baik persiapan atlet Sulteng menuju PON.

Kisruh drama dana hibah berlarut-larut sampai berbulan-bulan.

Atlet yang sudah lolos PON terpencar di rumah masing-masing. Latihan tidak terkontrol ini yang membuat sang pelatih pusing tujuh keliling.

Belum lagi musim Pilkada, intrik terjadi di sana sini. Meski demikian seorang atlet dituntut profesional latihan terkontrol.

Beberapa atlet petanque di Kota Palu, try out sendiri sebelum Puslatda digelar.

Berangkatkah Heriyanto, Ichasul Amal, Dias Saharudin dan Firmansyah ke Makassar sekitar Maret 2024.

Mereka berangkat naik motor tanpa ada dana sepeserpun dari FOPI, pemerintah termasuk KONI karena saat itu anggaran masih disegel Dispora.

Berangkat hanya modal semangat dan bekal seadanya. Tapi, mereka bisa pulang membawa medali perak.

Setibanya di Palu, atlet yang ada di Palu melanjutkan latihan mandiri.

Latihan nya tidak rutin setiap sore. Menggunakan bola bekas yang berkarat.

Puslatda digelar akhir Mei. Seluruh cabor dipanggil mengikuti Puslatda di Barak termasuk petanque.

Puslatda digelar lebih cepat sambil menunggu anggaran dicairkan. Karakter petarung ditanamkan.

Heriyanto sebagai prajurit TNI sudah biasa melakoni pola pelatihan tentara. Apalagi puslatda PON polanya semi militer itu tidak membuatnya mengeluh sedikit pun.

Kecuali soal bonus yang belum ada kabarnya. Ini yang meresahkan di kepala Heriyanto dkk.

Peralatan juga belum datang. Ini yang sedikit meresahkan. Namun semakin memahami dinamika, tim petanque Sulteng semakin ikhlas dan menyatukan tekad menunggu berangkat ke Aceh.

Satu lagi yang belum terungkap di media. Untuk meraih emas, atlet petanque Sulteng menyisihkan sebagian rezeki yang diterimanya berbagi ke panti asuhan yang ada di Kota Palu. Cara ini dilakukan untuk membuka pintu langit agar meridhoi perjuangan mereka.

Cabor petanque raih medali emas pertama kali di PON

Selanjutnya..