Nambaso Fencing Academy, Rumah Kecil untuk Mimpi Besar Atlet Anggar Sulteng

SPORT SULTENG3809 Dilihat

Palu, sportz.id – Nambaso Fencing Academy. Klub olahraga anggar yang dibina oleh Faisal, pelatih anggar PON yang sudah lama membina atlet usia muda. Kini, ia melatih di rumahnya yang terletak di Jl. Tombolotutu, Talise.

Atlet anggar yang saat ini dibina di Nambaso Fencing antara lain Didit, Maudy Ibnu Riski, M. Andi Reski, Ari Erlanga, Yuda Putra Pratama, Putri Niken, Tesalonika Yolanda Almas, Ibnaty Nadyaulya Nur Rafifah, Katani Talita Saulisa, Raisa Nur Akila, Farah Kamila Arafand, Chairil Zafran, dan Azka Nugrah. Selain Faisal, atlet anggar ini dibina Rohyana, Binpres Anggar Sulteng.

Sekitar 20 lebih anak-anak rutin berlatih di rumah Faisal, mulai dari yang paling kecil berusia 6 tahun hingga remaja,  tengah dipersiapkan mengikuti Kejurnas yang akan dihelat di Aceh tahun ini.

Raut wajah bahagia dan penuh semangat tergambar dari anak-anak Fencing Nambaso saat mempelajari olahraga anggar—cabang olahraga yang sangat tidak umum atau sedikit digemari dari cabor-cabor prestasi yang ada di Sulawesi Tengah.

Di Sulteng, Faisal mengatakan, cabor anggar termasuk eksklusif karena minimnya kejuaraan lokal. Hal ini membuat para pembina dan atlet harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengikuti berbagai event di luar daerah.

Pun anggar membutuhkan fasilitas yang mahal, mulai dari baju pertandingan/ latihan full elektronik, alas serta senjata.  Namun bersyukur, fasilitas latihan mendapatkan bantuan dari IKASI Pusat meski kondisinya sudah ada yang rusak namun masih bisa digunakan.

Dengan tantangan itu faisal mengaku tidak menarik iuran karena mendapatkan atlet yang serius menekuni anggar itu sudah hal yang membanggakan.

Perlu diketahui, Meskipun tantangan yang dihadapi begitu berat, anggar di Sulteng tidak pernah absen mengikutsertakan wakilnya. Pada PON 2024 lalu di Aceh–Medan, Sulteng bahkan diwakili oleh dua atlet putri.

Dinamika kepengurusan di pusat pun menjadi beban tersendiri bagi pembinaan di daerah. Faisal berharap dualisme di tingkat pusat segera berakhir, dan kepengurusan anggar menjadi satu, agar program pembinaan dan kompetisi dari pusat hingga ke daerah dapat berjalan lebih maksimal. (bar)