Setahun Lebih Berlalu, Bonus Juara Nasional Atlet Paraclimbing Sulteng Belum Cair: Mazni Kini Bingung Harus Berharap ke Siapa

Sportz.id – Setahun lebih setelah meraih prestasi membanggakan di tingkat nasional, atlet paraclimbing asal Sulawesi Tengah, Mazni, masih belum menerima haknya berupa bonus kemenangan sebesar Rp7 juta.

Mazni, atlet penyandang disabilitas yang sukses meraih juara 1 kategori lead daksa putri pada ajang Kejuaraan Pranatas National Paraclimbing Competition di Surakarta, 30 November–1 Desember 2024, mengaku hingga kini belum ada kejelasan terkait pencairan bonus yang dijanjikan panitia.

Padahal, dalam kompetisi tersebut Mazni berhasil mengalahkan pesaingnya, Siti Jariyah dari Jawa Tengah dan Yuni Suharti dari Boyolali. Prestasi itu sempat menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sulawesi Tengah, sekaligus bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi.

Namun kebanggaan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan panjang.

“Sudah lebih dari setahun kami menunggu. Sampai sekarang belum ada kejelasan juga,” ujar Mazni saat menghubungi sportz.id.

Ia mengatakan, sejak awal panitia menjanjikan bonus akan diberikan setelah pertandingan selesai. Namun janji itu terus bergeser, mulai dari penyerahan di wisma atlet hingga janji transfer dalam waktu sepekan. Belakangan bahkan muncul surat pemberitahuan penundaan pembayaran, tetapi setelah itu tidak ada lagi perkembangan.

Yang membuat Mazni semakin bingung, pihak yang sebelumnya aktif dihubungi terkait bonus tersebut kini disebut sudah tidak lagi aktif dalam kepanitiaan maupun komunikasi.

“Orang yang biasa kami hubungi sekarang katanya sudah tidak aktif lagi. Jadi kami juga bingung harus menghubungi siapa dan berharap ke siapa,” tuturnya.

Bagi Mazni, nominal bonus tersebut memang penting untuk kebutuhan hidup dan menunjang aktivitasnya sebagai atlet. Namun lebih dari itu, ia menilai penghargaan terhadap atlet disabilitas seharusnya tidak berhenti hanya pada seremoni penyerahan medali.

“Kami ini juga berlatih keras, berjuang membawa nama daerah. Jangan sampai setelah juara justru dilupakan,” katanya.

Perjalanan Mazni menuju kejuaraan nasional itu pun tidak mudah. Untuk bisa tampil di Surakarta, ia mendapat dukungan dari Ketua FPTI Sulawesi Tengah yang membantu kebutuhan perjalanan dan akomodasi. Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi dirinya untuk tetap bertanding membawa nama daerah.

Kini, di tengah ketidakjelasan bonus yang belum juga diterima, Mazni hanya berharap ada pihak yang benar-benar mau membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

Ia berharap perhatian datang dari pihak penyelenggara, federasi olahraga, pemerintah daerah, maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap nasib atlet disabilitas.

“Kami hanya ingin hak kami dipenuhi. Jangan karena kami disabilitas lalu dianggap bisa terus menunggu tanpa kepastian,” ucapnya lirih.

Diketahui, polemik belum dibayarkannya bonus atlet paraclimbing ini sebenarnya sudah mencuat sejak Mei 2025 lalu. Saat itu, pihak panitia melalui Ketua Panitia sekaligus Ketua Yayasan Disabilitas Pranatas Indonesia, Dody Bachtiar, sempat memberikan klarifikasi kepada media terkait keterlambatan pembayaran bonus para juara.

Dalam penjelasannya kala itu, panitia mengaku penyelenggaraan Kejuaraan Pranatas National Paraclimbing Competition 2024 dilakukan dengan keterbatasan anggaran. Mereka menyebut tidak memperoleh dukungan sponsor, bantuan BUMN, maupun sokongan dana dari lembaga pemerintah.

Panitia mengaku telah berupaya mengajukan proposal ke sejumlah perusahaan dan instansi, namun sebagian besar tidak membuahkan hasil. Bahkan setelah kegiatan selesai, bantuan dari pihak swasta yang sempat dijanjikan juga disebut tidak pernah terealisasi.

“Tidak ada sponsor, tidak ada bantuan dari BUMN atau instansi. Jadi semuanya murni dari pengurus panitia sendiri,” demikian pernyataan panitia saat itu.

Panitia juga menjelaskan, total kebutuhan pelaksanaan kegiatan mencapai hampir Rp200 juta. Anggaran itu digunakan bukan hanya untuk lomba paraclimbing, tetapi juga rangkaian seminar nasional tentang olahraga disabilitas yang menghadirkan akademisi, perwakilan NPC, FPTI, Komnas Disabilitas, hingga unsur kesehatan.

Dalam klarifikasinya, panitia menegaskan tidak memiliki niat mengabaikan hak para atlet. Mereka mengklaim masih terus berupaya mencari sumber pendanaan agar bonus para juara dapat segera dibayarkan.

“Kami akan terus usahakan sampai ada. Saya akan bertanggung jawab,” ujar perwakilan panitia kala itu.

Namun janji tersebut hingga kini belum terealisasi. Memasuki Mei 2026 atau lebih dari setahun setelah klarifikasi itu disampaikan, para atlet, termasuk Mazni, mengaku belum menerima bonus yang dijanjikan.

Bahkan, menurut pengakuan Mazni, sejumlah pihak panitia yang sebelumnya aktif berkomunikasi kini sudah sulit dihubungi. Kondisi itu membuat para atlet merasa kehilangan kepastian dan bingung harus meminta pertanggungjawaban kepada siapa.

Situasi tersebut menambah kekecewaan para atlet disabilitas yang sebelumnya berharap ajang nasional itu menjadi momentum penghargaan terhadap perjuangan dan prestasi mereka. (bas)