Biaya Kompensasi Mutasi Tidak Tuntas, KONI Riau Singgung Sulteng Main “Lewat Belakang”

SPORT SULTENG4222 Dilihat

Palu, sportz.id – KONI Provinsi Riau angkat bicara soal Azzahra Permatahani.

Wakil Ketua I KONI Riau, Chairul Fahmi, menjelaskan pihaknya sejak awal tidak pernah menahan kepindahan Azzahra ke Sulteng.

Namun, ia menyayangkan karena proses mutasi yang dilakukan tidak mengikuti ketentuan organisasi KONI Pusat yang diatur dalam Surat Keputusan KONI Pusat Nomor 75 Tahun 2022 tentang Penyempurnaan Ke-2 Peraturan Mutasi Atlet.

“Riau tidak pernah menghalangi, karena kami melihat Azzahra sendiri tidak lagi ingin bersama Riau. Tetapi KONI Sulteng tidak mengindahkan aturan mutasi yang sudah jelas diatur oleh KONI Pusat,” ujar Fahmi saat dihubungi dari Palu, Selasa (9/9).

Fahmi mengungkapkan, sepanjang 2021–2022 KONI Riau telah memenuhi seluruh hak Azzahra saat itu Sulteng dalam proses pemindahan ke Sulteng.

Saat itu, KONI Riau bahkan meminta adanya mediasi yang difasilitasi KONI Pusat melalui Ketua Panwasrah, Suwarno.

Tidak sampai disitu, bahkan Binpres KONI Riau sampai ke KONI Sulteng hanya untuk mengingatkan kepada KONI Sulteng bahwa Riau telah membayarkan hak yang diterima Azzahra.

“Padahal sudah diingatkan, kalau mau ambil lewat depan jangan lewat belakang. Itu terkait kompensasi yang harus diberikan kepada Riau. Kami meminta Rp3 miliar, dan itu masih bisa dinegosiasi. Tetapi dari Sulteng tidak pernah merespon, padahal ada waktu sekitar dua bulan,” jelasnya.

Meski akhirnya kalah di Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI), KONI Riau menilai masih ada celah hukum. Pihaknya kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang pada akhirnya mengabulkan permintaan Riau: mengembalikan seluruh medali PON XXI/2024 yang diraih Azzahra serta menegaskan Azzahra kembali menjadi atlet Riau.

Imbasnya, ranking Sulteng melorot dari 18 ke posisi 23 menggeser Papua Pegunungan. Tak cuma itu, Bonus yang diterima Azzahra dan uang pembinaan miliaran rupiah yang bersumber dari APBD provinsi Sulteng pun sia-sia.

Sulteng pada PON XXI/2024 tercatat meraih total 38 medali, terdiri dari 8 emas, 7 perak, dan 20 perunggu. Medali emas disumbang 3 dari cabang renang, 3 gateball, 1 petanque, dan 1 paralayang.

Namun, dengan dicabutnya medali Azzahra, posisi Sulteng terancam turun dari peringkat 18 ke peringkat 23, menggeser Papua Pegunungan yang mengoleksi 6 emas, 0 perak, dan 3 perunggu.

Terkait desakan KONI Sulteng agar bonus dan uang pembinaan yang telah diberikan dikembalikan, Fahmi menegaskan hal tersebut bukan urusan KONI Riau.

“Kalau bonus yang sudah diterima Azzahra, itu urusan Sulteng dengan atletnya. KONI Riau tidak pernah menerima uang dari KONI Sulteng. Kami hanya bertanggung jawab memberikan bonus sesuai ketentuan untuk atlet peraih medali sebagaimana yang diterima atlet Riau,” tegasnya.

Sebagai catatan, Azzahra menjadi atlet penerima bonus terbesar dari Pemprov Sulteng usai PON Aceh–Sumut. Medali emas Rp500 juta, medali perak Rp300 juta dan medali perunggu Rp150 juta.

Total, perenang olimpian ini menerima Rp2,2 miliar dari raihannya: 2 emas (200 m gaya ganti dan 400 m gaya ganti), 3 perak (50 m gaya bebas, 100 m kupu-kupu, 200 m gaya punggung), serta 2 perunggu (200 m gaya dada, 100 m gaya punggung). (bar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *