SPORTZ.ID – KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah tengah berada di persimpangan jalan.
Seiring berakhirnya masa kepemimpinan lama, kini muncul pertanyaan. Siapa sosok yang pantas memimpin, membina, sekaligus mengayomi dunia olahraga di daerah ini? Pertanyaan itu mengerucut pada satu kalimat sederhana. KONI Sulteng sedang mencari sosok ayah.
Dalam beberapa tahun terakhir, wajah olahraga Sulteng menunjukkan geliat yang patut diapresiasi. Atlet-atlet muda bermunculan di berbagai cabang, bahkan menorehkan prestasi di tingkat nasional. Namun di balik itu, tidak sedikit pula dinamika yang menjadi catatan. Polemik bonus atlet, dualisme kepengurusan cabang olahraga, hingga lemahnya perhatian pada pembinaan jangka panjang.
Bagi para insan olahraga, KONI adalah lembaga “rumah besar” tempat mereka bernaung. Di dalam rumah ini, atlet, pelatih, dan pengurus cabang berharap adanya sosok pemimpin yang hadir bukan hanya sebagai administrator, melainkan ayah yang mampu memberi rasa aman, kepastian, dan arah. Figur ayah dalam konteks KONI bukan berarti paternalistik, melainkan kepemimpinan yang mengayomi, merangkul perbedaan, memberi dukungan tanpa pamrih, serta mengutamakan kepentingan atlet di atas segala-galanya.
Seorang ayah dalam dunia olahraga adalah mereka yang bisa menjadi pendengar atas keluh kesah cabang olahraga, memberi solusi atas masalah pembinaan yang kerap terkendala anggaran, tegas pada aturan namun bijak dalam mengambil keputusan, serta membangun komunikasi harmonis dengan pemerintah daerah. Sebab tanpa dukungan anggaran dan kebijakan, prestasi hanya akan menjadi mimpi.
KONI Sulteng telah melahirkan prestasi, tetapi juga tidak lepas dari catatan kekurangan. Kini momentum mencari pemimpin baru adalah kesempatan emas untuk menata kembali arah pembinaan. Dibutuhkan figur yang tidak sekadar populer, melainkan berkomitmen, tulus, dan memahami denyut nadi olahraga daerah.
Harapan terbesar para insan olahraga sederhana. KONI harus dipimpin oleh sosok ayah yang hadir bukan hanya saat kemenangan, tetapi juga saat kesulitan. Sosok yang memotivasi sekaligus membangun sistem agar atlet Sulteng mampu bersaing di panggung nasional bahkan internasional.
KONI Sulteng memang sedang mencari pemimpin. Tetapi lebih dari itu, mereka sejatinya sedang mencari sosok ayah yang dapat menuntun dengan hati, mengarahkan dengan visi, dan mengayomi dengan kasih.
Karena pada akhirnya, prestasi olahraga bukan hanya tentang medali, tetapi tentang bagaimana keluarga besar olahraga Sulteng merasa dihargai, dirangkul, dan diberdayakan. (*)

